Akhir Dari Sebuah Persahabatan Sejati

Penulis: 
Meranasepi
Mengkonsumsi narkoba suntik bergantian beresiko tinggi menularkan HIV/AIDS. Kisah Kojai berserta kawan-kawannya menjadi bukti. Tidak hanya persahabatan mereka yang rusak, mereka dijemput maut oleh HIV/AIDS karena kebiasaan menggunakan narkoba suntik bergantian. 

Masih ingat dengan kisah si Kojai? Pria yang meninggal karena mengidap HIV/AIDS. Kisah sedih itu tak berhenti sampai di situ. Satu persatu kesedihan menyusul sejak kepergian Kojai. Ternyata Kojai tak sendiri. Virus HIV/AIDS yang menyerang tubuhnya ternyata juga menular ke teman-temannya. Mereka sama-sama menggunakan narkoba suntik secara bergantian. 

Beberapa tahun sebelum Kojai menderita sakit, sempat terdengar kabar bahwa tiga orang temennya meninggal. Aku mendengar kabar dari Kakak Kojai. Kala itu terjadi, Kojai masih kuliah di kota Yogyakarta, dimana aku juga kuliah di sana. Karena pengetahuan yang minim tentang HIV/AIDS, Kojai tak menyadari bahwa penyebab kematian ketiga temannya adalah HIV/AIDS. Ketika Kojai sakit, kondisi penyakit ketiga teman yang meninggal sama persis dengan kondisinya saat itu. Baru setelah Kojai jatuh sakit dan kemudian meninggal menyusul ketiga temannya itu, keluarga baru menyadari betapa kejamnya virus HIV/AIDS. 

Tiga bulan setelah Kojai meninggal dunia, aku mendengar kabar dari keluarganya bahwa Kubil, temen sepermainan Kojai meninggal. Kubil merupakan teman sepermainan Kojai di Komplek ketika Kojai masih SMA. Ia meninggal dengan proses sakit yang sama. Sakit yang dialami Kubil tidak harus ia derita dalam waktu yang lama. Hanya kurang lebih satu bulan Kubil mengalami sakit dan akhirnya dia meninggal. Besar kemungkinan Kubil mengidap HIV/AIDS yang ditularkan melalui jarum suntik ketika mereka mengkonsumsi narkoba bersama-sama. 

Setelah dua tahun Kojai meninggal, di pertengahan Juni 2008, tak disangka kepergiannya disusul lagi oleh kematian sahabat sejatinya, Tris. Memang sebelum Kojai menutup usia, dia pernah bercerita pada kami, dengan siapa saja kala SMA dia menggunakan serbuk putih terlarang itu. Salah satu nama yang disebutkan diantaranya Tris. Bagi Kojai, Tris memang sahabat sejati sejak kecil. Usia Tris setahun lebih tua dari Kojai sehingga ia menganggap Tris sebagai sahabat sekaligus kakak. Namun disayangkan kakak yang dijadikan panutan justru menjerumuskan Kojai ke dalam jalan menuju kematian.

Aku ingat ketika Kojai terbaring tak berdaya di RS. Bayukarta Karawang, beberapa teman komplek Kojai datang menjenguknya. Salah satu dari teman itu adalah Tris. Namun entah apa yang dibisikkan Kojai ke telinga Tris, hingga sepertinya perlahan–lahan Tris bergerak mundur dan sedikit menjauhi Kojai. Belakangan aku mengetahui dari teman Kojai, pada saat itu ia berbisik, “Tris, badanku rasanya lemas banget, sepertinya organ dalamku telah hancur semua”. Tak disangka karena bisikan itulah, Tris mulai menghindari Kojai.

Setelah Kojai meninggal dunia, terdengar kabar bahwa Tris mulai sakit–sakitan. Keluarga Tris menutup rapat tentang apa sebenarnya penyakit Tris. Namun karena keluarga Kojai telah berpengalaman menghadapi gejala penyakit HIV/AIDS, mereka sudah bisa menebak apa sebenarnya penyakit Tris. Jika dilihat dari gejalanya, sakit yang dialami Tris sangat mirip dengan yang pernah dialami Kojai.

Mungkin kejadian yang dialami Kojai adalah pelajaran yang sangat berharga bagi keluarga Tris. Hikmah baik yang dapat diambil oleh keluarga Tris adalah mereka menjadi lebih sigap dan cepat dalam mengobati Tris. Dalam kurun waktu hampir dua tahun, secara intensif keluarga Tris membawa dia untuk selalu chek up ke RS. Dharmais, Jakarta. Dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun itulah kondisi kesehatan Tris bagaikan sebuah yoyo., naik turun. 

Kurang lebih satu bulan dirawat di RS. Dharmais Jakarta, Tris pulang ke Karawang. Kondisi Tris waktu itu sudah mulai membaik. Badannya menjadi agak gemuk dan dia-pun mulai berjalan– jalan ke luar rumahnya. Suatu ketika, pernah dia terlihat begitu lahapnya menyantap siomay di depan rumahnya dengan ditemani oleh istri tercinta. 

Kala itu kulihat betapa bahagianya mereka. Kebahagiaan yang tak dapat kurasakan dengan Kojai. Sejujurnya dalam hati kecilku sedikit kecewa. Bukan kecewa karena melihat kebahagiaan mereka. Tetapi aku kecewa akan keadilan Tuhan. Mengapa Tris bisa sembuh sedangkan Kojai tidak? Padahal mereka sama–sama pernah mengalami kondisi yang sama. Tapi ternyata aku salah besar. Bagaikan sebuah yoyo tadi, kondisi baik Tris pun tak berlangsung lama. Berangsur– angsur kondisi Tris mengalami penurunan hingga akhirnya Tris pun meninggal dunia.

Bagaikan persahabatan yang sejati dan abadi, empat sekawan itu pun meninggal dunia dengan penyakit yang sama, penyakit yang tidak mereka sadari dari mana asalnya dan bagaimana akibatnya. Kini, Kojai dan teman–temannya berkumpul kembali di alam mereka yang baru. Alam yang lebih abadi. Bisa jadi ini akhir dari sebuah persahabatan yang sejati. Semoga ini menjadi jalan yang terbaik bagi mereka. Dengan adanya kejadian ini, semoga banyak hikmah yang dapat kita ambil. Setidaknya bagi kita yang ditinggalkan untuk menyelamatkan generasi penerus kita. 
Penulis: Meranasepi

KABAR TERBARU

12.06.2014

Jakarta- Bertempat di Media Center KPU Jakarta, 6 Juni 2014, SatuDunia meluncurkan ulang www.pemilubersih.org, media...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?