Fery Irawan: Film ML Anti Free Sex

Ferry Irawan, Kewalahan Protes Film ML

FERY Irawan merasa terheran-heran dengan banjir kritik dan protes terhadap film ML (Mau Lagi...) yang dibintangi dan diproduserinya itu. Dia berdalih film tersebut sebenarnya mempunyai misi anti kehidupan seks bebas. Namun celakanya, sebagian masyarakat malah membalik asumsi tersebut dengan memberikan penilaian yang menurutnya salah kaprah, yakni cap sebagai film yang mengumbar adegan panas dan buka aurat.

“Persepsi yang mencuat kok malah menuduh film ini pro pada seks bebas. Padahal misi kami justru sebaliknya. Yakni mengikis habis seks bebas di tengah masyarakat,” dalih Ferry Irawan saat menggelar jumpa pers untuk mengklarifikasi segala tuduhan mengenai film ML itu di Jakarta, Senin (12/5).

Yang membuat Ferry tambah heran, protes dan kritik tersebut sudah mencuat jauh sebelum film itu ditayangkan di bioskop-bioskop. “Darimana menilai porno, vulgar, syarat adegan panas, kalau belum menonton film itu? Apa hanya karena melihat judulnya saja, terus langsung bilang porno. Ini enggak fair banget,” kata Ferry, dalam nada tinggi.

Ferry mengingatkan, kasus penderita AIDS di Indonesia angkanya terbesar nomor dua di dunia setelah Thailand. Dengan film bertema anti seks bebas seperti dalam film ML, harusnya masyarakat justru menerima kehadiran film ini. Ditanya mengenai judul ML yang dinilai sudah asosiatif ke urusan ranjang, Ferry beralasan bahwa urusan judul adalah urusan marketing. “Ya kayak melihat isi sebuah buku itu, jangan cuma menilai dari cover (sampul)-nya saja,” kilahnya.

Saat menggelar acara klarifikasi itu, Ferry sengaja mengundang Titie Said, novelis kondang yang juga anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Titie mengakui, editing atau sensor terhadap film tersebut berlapis-lapis untuk mencegah kritik dan protes masyarakat. Toh, dengan pengawasan berlapis itu nyatanya masih saja dikritik sana-sini. “Film ML itu kami tinjau sampai tujuh kali loh. Itu semua demi kehati-hatian LSF meloloskan film ini,” kataTitie Said.

Titie juga menyebutkan, akibat sensor ketat tersebut, film yang dibintangi Ratu Felisha tersebut harus tertunda penayangan perdananya sampai sebulan. (Persda Network/yon) 
Penulis: Aris

 

KABAR TERBARU

27.03.2015

SatuDunia, Jakarta. Pada 25 Maret 2015 di kantor SatuDunia, digelar diskusi Rumah Pengetahuan tentang Politik Pengetahuan dalam kasus Samin VS Semen. Narasumber dalam diskusi itu...

PUBLIKASI

27.03.2015

SatuDunia, 27 Maret 2015. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan kekuasaan. Relasi yang melekat itu sering disebut sebagai politik pengetahuan. Bagaimana praktik politik...

AGENDA

11.03.2015

 

SatuDunia, Jakarta. Relasi antara pengetahuan dan kekuasaan sangat erat. Menurut Michel Foucault keduanya memiliki hubungan timbal balik. Lantas bagaimana melihat...