KAU: Clean Technology Fund Hanya Menutupi Borok Bank Dunia
Rabu, 11 November 2009, World Bank, Asian Development Bank, dan International Financial Corporation (IFC) akan menyelenggarakan acara untuk mengumpulkan masukan tentang Rencana Investasi Clean Technology Fund (CTF) di Indonesia.
”Keterlibatan Bank Dunia dalam agenda perubahan iklim itu keliru,” ujar Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU), Dani Setiawan, di Jakarta (9/11). Pertama, lanjut Dani, Bank Dunia selama ini menjadi salah satu lembaga yang berkontribusi langsung dan tidak langsung terhadap pemanasan global.
“Lembaga ini mendorong industri besar untuk bersifat ekploitatif,” jelasnya, “Terkait dengan clean technology fund, itu hanya untuk menutupi borok Bank Dunia.”
Menurut Dani, penerapan teknologi bersih ini juga seharusnya diterapkan lebih dulu di negara maju, baru diimplementasikan ke Indonesia. “Lagipula, kalaupun diterapkan harus berupa program yang tidak akan menambah beban hutang,” kata Dani, “Untuk itu, harus ada perubahan fundamental yang dilakukan pemerintah terkait dengan proyek Bank Dunia ini.”
Sebelumnya, Bappenas secara terus terang menyatakan mengincar pinjaman alternatif dari Climate Investment Fund (CIF) dalam rangka mengantisipasi krisis keuangan global dan mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Yang sedang diincar sekarang adalah dana untuk CIF yang sudah dikumpulkan Bank Dunia sebesar US$6,1 miliar," ujar Direktur Pendanaan Multilateral Bappenas, Dewo Broto Joko Putranto, usai Seminar Ketahanan Energi, Sektor Keuangan, dan Alternatif Pendanaan seperti ditulis detik.com pada 23 Oktober 2008 lalu.
Menurutnya, dana tersebut nantinya akan dikucurkan melalui clean technology fund. Dana tersebut diberikan dalam rangka program climate change yang digunakan untuk membantu negara-negara berkembang mengadakan pengurangan emisi.



