Belajar Menghargai Bumi dari Petani Cijulang

Suraraya Tani Alami, Tradisi Menghargai Bumi Petani Cijulang

Ani Purwati - 14 Jan 2009
Sebagai tempat berpijak dan sumber segala kehidupan manusia, bumi sangat bermakna bagi umat manusia. Terutama bagi petani yang kesehariannya selalu berhubungan dengan tanah atau bumi dalam bertani menghasilkan produk pangan bagi manusia. Maka tak heran jika petani sangat menghargai bumi. Salah satunya dengan ritual upacara adat istiadat atau menggunakan cara-cara bertani organik yang ramah lingkungan.
 
Bersamaan dengan pergantian tahun baru Hijriah, biasanya mereka mengadakan ritual adat untuk menghargai bumi dengan mensyukuri segala hasil bumi yang mereka dapatkan selama ini. Saat pergantian tahun 1430 H kemarin yang hampir bersamaan dengan tahun baru Masehi 2009, mereka mengadakan serangkaian kegiatan adat tersebut yang bernama “Suraraya Tani Alami” pada 10-11 Januari 2009. Kegiatannya terdiri dari temu konsumen-produsen yang berisi acara diskusi antar konsumen dan petani organik Cijulang, melihat dan panen kebun, pameran tanaman dalam pot dan sedekah bumi.
 
Sedekah Bumi dapat dikatakan sebagai ritual adat kasepuhan setempat dalam mensyukuri karunia hasil bumi atau hasil tani selama ini dan berharap mendapat hasil yang sama atau lebih pada masa selanjutnya. Di sini petani bermaksud mengembalikan apa yang telah mereka peroleh dari bumi kepada bumi karena segala sesuatu berasal dari bumi atau tanah dan pada akhirnya akan kembali pula pada bumi.
 
“Melalui acara ini kami ingin melakukan refleksi dalam bertani dan kehidupan lainnya serta berupaya untuk melakukan perbaikan,” kata Mbah Rodi, sesepuh warga Cijulang.  
 
Dalam  adat ini petani akan menyusun hasil bumi berupa sipat daun buah peti (hasil bumi berupa daun-daunan dan umbi-umbian) kemudian mengaraknya dari satu rumah penduduk menuju rumah sesepuh kampung setempat. Secara simbolis hasil bumi itu sebagian akan ada yang dikubur kembali ke dalam tanah seperti halnya kepala kambing dan sebagian besar akan dimasak lalu disantap.
 
“Melalui ritual adat yang kembali diadakan sejak dua tahun lalu ini, diharapkan petani dan masyarakat lainnya dapat mengingat kembali adanya tradisi-tradisi alami yang telah mereka tinggalkan,” kata Gandhi Bayu sebagai Koordinator Ekonomi Pedesaan Elsspat (Institute for Sustainable Agriculture & Rural Livelihood) yang selama ini mendampingi petani Cijulang dalam bertani secara organik.
 
Dalam hal ini menurut Gandhi, terutama tradisi dalam menghargai alam dengan melakukan teknik-teknik pertanian organik yang ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis, serta nilai-nilai sosial budaya dalam meningkatkan harkat hidup masyarakat setempat.
 
Dengan rangkaian acara ini, diharapkan swadaya atau gotong royong warga kembali tumbuh. Masyarakat juga disadarkan bahwa yang terpenting dalam kehidupan ini bukan hanya peningkatan ekonomi saja, tapi yang lebih penting juga adalah nilai-nilai sosial budaya dalam menghargai alam dan masyarakat lainnya.
 
“Begitupun dalam melakukan pertanian. Dengan bertani organik, berarti petani melakukan teknik-teknik yang ramah lingkungan dan memperhatikan kemampuan atau daya dukung alam, bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi semata,” jelas Gandhi.
 
Bermacam produk lokal yang dihasilkan seperti umbi-umbian dan proses memasaknya yang tradisional juga menunjukkan bahwa petani mampu memenuhi kebutuhan pangannnya sendiri dan berdaulat atas pangan tanpa tergantung pada pihak lain.
 
Senang Bertani Organik
 
Petani di Cijulang, Bogor, Jawa Barat telah mengembangkan pertanian organik sejak 2000 lalu. Yaitu pertanian tanpa menggunakan zat-zat kimia sintetis baik pupuk maupun pestisida. Sebelumnya mereka masih menggunakan pupuk kimia sintetis dalam ukuran yang kecil.
 
Sejak ada pendampingan dari Elsppat sejak 2000 lalu, petani di Cijulang ini mengembangkan pertanian organik dengan jenis tanaman sayur-sayuran, seperti bayam, sawi, pakcoy, selada cost, buncis, kacang panjang, dan jagung. Marin sebagai salah satu petani organik di Cijulang mengaku senang telah mendapat bimbingan bertani organik. Sebelumnya dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik sandal.
 
Menurutnya selama bertani organik, tidak mengalami kendala yang berarti. Hanya sedikit hama (ulat, serangga), kekurangan air saat musim kering, dan hasil panen yang kurang bagus atau hasil penjualan yang kurang memuaskan. Namun hama dapat ditangani dengan menggunakan pestisida alami dari air rendaman sabut kelapa.
 
Mengenai hasil panen yang kurang bagus, menurutnya dia harus bisa bekerja lebih baik dan teliti lagi. Karena dia sadar bahwa pertanian organik memerlukan ketelitian yang tinggi. “Untuk itu saya berharap, hasil panen tanaman organiknya bisa diterima konsumen dengan harga yang selayaknya,” kata Marin.
 
Sumber: http://www.beritabumi.or.id/?g=beritadtl&newsID=B0118&ikey=1

 

KABAR TERBARU

21.10.2014

Pada 7 Oktober 2014, SatuDunia memberikan hadiah lomba untuk pemenang lomba penulisan berita untuk Jokowi.

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?

AGENDA

16.09.2014

Knowledge sharing merupakan salah satu isu penting dalam knowledge management (Manajemen Pengetahuan) dan juga mendukung keberhasilan suatu organisasi atau jaringan.