HIV/AIDS di Mata Beberapa Remaja
Oleh Raisa Aurora, Mahasiswi IPB
Satudunia, Jakarta. Perkembangan zaman saat ini telah mempengaruhi pergeseran nilai moral di masyarakat. Budaya seks bebas dan bahaya narkoba menghantui kehidupan remaja. Salah satu dampak paling riskan adalah penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. Benarkah remaja kurang perduli dan kurang memahami bahaya HIV/AIDS? Apakah mereka update terhadap isu-isu seputar HIV/AIDS?
Dari pernyaataan sejumlah remaja yang dimintai tangapannya soal HIV/AIDS, umumnnya mereka kurang paham mengenai cara penyebaran HIV/AIDS. Beberapa menyebutkan bahwa HIV/AIDS bisa menyebar lewat cairan tubuh seperti keringat, air liur, atau berbagi pakai barang dengan penderita. Pemahaman ini jelas keliru, karena penyebaran HIV/AIDS tidak semudah itu. Meminum dari gelas yang sama dengan gelas penderita HIV pun tidak dapat menularkan HIV.
Begitu pula dengan berjabat tangan, memeluk, dan tindakan lain yang termasuk casual contact. HIV tidak dapat bertahan di luar tubuh manusia dan tidak dapat ditularkan melalui udara atau pun makanan. Penularan lewat air liur pun berlaku dalam jumlah tertentu, yaitu sekitar 1.500 liter. Sebenarnya, virus HIV itu tidak mudah menular. Berbeda dengan virus influenza atau virus lain yang dengan mudah menular dari satu penderita kepada orang lain. Ini karena virus HIV/AIDS bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4.
Kemudian menyinggung isu mengenai feminisasi penyakit HIV/AIDS, para remaja ini juga punya pandangan sendiri. “Harusnya istri-istri harus bisa lebih kritis sama suaminya? Jangan sampai suaminya ‘jajan’ ke luar,”, ujar Akbar Hardisurya (18) salah seorang mahasiswa dari perguruan tinggi terkemuka di Depok.
Masalah ini memang dibahas dalam sarasehan yang diadakan Yayasan Pelita Ilmu bulan Januari lalu mengenai ‘Selamatkan perempuan dan bayi dari HIV/AIDS’. Para istri harus kritis terhadap suaminya, mengetahui kegiatan suaminya dari pagi hingga malam, jangan sampai lolos ke tempat prostitusi. Hal itu dapat mencegah penyebaran HIV/AIDS dari suami kepada keluarganya. “Mendingan ada sosialisasi agar para istri untuk berani kritis kepada suaminya.”, lanjut Akbar.
Akses informasi tentang HIV/AIDS juga dirasa kurang bagi teman-teman remaja. “Kalau perlu ada iklan layanan masyaraat mengenai HIV/AIDS yang unik dan kreatif. Kaya iklan-iklan rokok kan lucu tuh! Bisa mengundang tawa dan berbekas di benak kita,” tambah Akbar.
Lain lagi pendapat dari Alfinda Agyputri (18), seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Keterbatasan informasi yang diterima salah satunya juga disebabkan keengganan dari kita untuk menyebarkan informasi ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Alfinda menambahkan bahwa masyarakat masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah HIV/AIDS. Bila mereka mencari tahu sendiri takut ada tudingan bahwa dirinya mengidap HIV/AIDS.
Mengenai masalah seks bebas, Alfinda berkomentar: “Tentu harus ada anak-anak muda yang sudah tahu, mengerti, dan peduli untuk menjadi panutan. Misalnya Jonas Brothers yang mengampanyekan anti Free Sex di Amerika, dan mereka juga harus konsisten dengan perbuatannya. Jangan bilang A, tapi perbuatannya B”.
Masalah HIV/AIDS yang tidak kalah peliknya juga menyinggung stigma dan diskriminasi di kalangan masyarakat, apalagi bila diskriminasi itu datang dari rumah sakit. Beberapa kali diberitakan mengenai kasus ODHA yang ditelantarkan oleh pihak rumah sakit atas dalih ketidaktersediaan fasilitas.
Salah satu remaja yang kami temui, Akmi Retno (18), mengatakan, sebaiknya dibuatkan Rumah Sakit khusus penyakit kelamin atau HIV/AIDS agar kasus stigma dan diskriminasi medis tidak terulang kembali. Saran ini memang bisa menjadi salah satu solusi terbaik agar penderita HIV/AIDS tidak lagi merasa khawatir dan kebingungan untuk mencari pengobatan dan perawatan.
