Jenazah Berpotensi Tularkan HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan AIDS termasuk virus yang bandel dan tidak mudah ditaklukkan. Bahkan saat pengidapnya meninggal pun, penyakit yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh manusia tersebut masih tetap aktif.

Sehingga tetap berpotensi menular pada orang di sekelilingnya melalui cairan dalam tubuhnya. Baik dari cairan darah maupun cairan kelamin. ''Karena itu orang-orang yang merawat jenazah penderita HIV/AIDS harus tetap waspada untuk menghindari penularan,'' terang Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Noer Windijantoro usai pembukaan pelatihan pemulasaran jenazah penderita penyakit menular bagi kaur kesra (modin) di Panti PKK kemarin.

Sebanyak 52 modin dari 18 kecamatan yang ada turut serta dalam pelatihan tersebut. Pelatihan itu sendiri dibuka oleh Sunaryono, kabag Kesehatan Masyarakat pada Biro Administrasi dan Kesra Pemprov Jatim.
Dua pemateri dihadirkan pada kesempatan itu. Yakni dr Ben Hardi dari Dinkes Mojokerto dan dr Edy dari RSU dr Soetomo Surabaya. Para modin yang biasa melakukan pemulasaran jenazah memang akrab dengan para pasien penderita penyakit menular.

Tanpa terkecuali penderita HIV/AIDS. Padahal, pada kegiatan merawat jenazah tersebut, banyak aktivitas yang berpotensi menyebabkan sang modin tertular. Khususnya pada saat membersihkan kemaluan dan dubur jenazah tatkala memandikan.

''Minimal, dengan pelatihan ini, para modin bisa lebih terampil dan hati-hati saat merawat jenazah penderita penyakit menular,'' terangnya. Pada kesempatan itu, para modin diberi sosialisasi dan praktik penggunaan kelengkapan alat perawatan jenazah.

Diantaranya memakai pakaian khusus, menghindari kontaminasi langsung dengan jenazah, menempatkannya di tempat pemandian bukan dipapah sebagaimana biasanya, serta pembuangan air limbah harus langsung pada tempat pembuangan.

Dengan langkah itu, diharapakan bisa menekan penyebaran penyakit menular yang semakin mengkhawatirkan. Para peserta kemarin juga menerima 53 alat pelindung diri (APD) berupa masker dan perlengkapan lainnya.

Sampai saat ini, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mojokerto terus mengalami peningkatan. Sepanjang tahun 2008 saja, ditemukan 25 penderita baru. Padahal tahun sebelumnya, hanya diketemukan 19 penderita. ''Sejak 2004 sampai 2008, ada 50 penderita HIV/AIDS yang terdeteksi, 23 diantaranya sudah meninggal dunia,'' katanya. (jif/yr)

 

KABAR TERBARU

27.12.2013

SatuDunia, Jakarta. Sebagian aktivis yang sedang melakukan advokasi tidak menganggap penting pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management/KM). Apa sebenarnya manfaat KM bagi LSM...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?

AGENDA

02.12.2013

Aplikasi open map dapat dimanfaatkan oleh organisasi masyarakat sipil untuk mendukung kerja-kerjanya, semisal membuat peta sebaran kasus yang ditangani.