Jutaan Pelanggan WPS di Indonesia Terinfeksi HIV/AIDS?

MEDAN - Kasus Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia diibaratkan seperti fenomena gunung es. Dimana, kasus yang terdata jauh lebih kecil dibanding jumlah yang tidak terdata.

"Populasi tertinggi yang terinfeksi HIV/AIDS adalah pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan angka estimasi mencapai 3,14 juta orang," kata kadis kesehatan Sumut, Candra Syafei, melalui manager global fund dinas kesehatan Sumut, Andi Ilham Lubis, tadi malam.

Menurut Andi, pelanggan PSK terbesar adalah karyawan dan pekerja yang umumnya telah memiliki pasangan. Dampak yang ditimbulkan selanjutnya adalah sekitar 1,8 juta pasangan pelanggan PSK tersebut ikut tertular HIV/AIDS.

Tingginya angka estimasi ini didasarkan pada besarnya peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun. Terhitung sejak pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1987 hingga 2009, kasus HIV/AIDS telah mengalami peningkatan hingga 5.000 kali lipat.

Sebagaimana dilaporkan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI per 31 Maret 2009, pada tahun 1987 ditemukan 5 kasus. Jumlah ini meningkat 5.000 kali lipat menjadi 23.632 kasus di tahun 2009.

"Tingginya penemuan kasus HIV/AIDS di Indonesia tahun 2009 ini, tidak terlepas dari peran aktif klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang melakukan deteksi dini guna mengungkap fenomena gunung es tersebut," ujarnya.

Sampai saat ini, lanjut Andi, klinik VCT yang telah dibuka di sejumlah rumah sakit  Sumatera Utara terus berupaya melakukan deteksi dini terhadap kasus-kasus HIV/AIDS di masyarakat sehingga dapat ditanggulangi secepat mungkin.

Upaya deteksi dini tersebut dilakukan mengingat Menko Kesra telah memperkirakan sekitar 1 juta penduduk Indonesia terinfeksi HIV/AIDS pada tahun 2015.

Dari jumlah tersebut, 38.500 di antaranya merupakan anak-anak. "Bahkan angka kematian HIV/AIDS pada tahun 2015 tersebut mencapai 350.000 orang," ujar Andi.

Kendati demikian, Andi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi terhadap para pengidap HIV/AIDS.

"Sikap diskriminatif tersebut akan menghambat proses penanggulangan HIV/AIDS. Jadi, dukungan masyarakat terhadap para pengidap HIV/AIDS sangat diharapkan," ujarnya.
 

KABAR TERBARU

12.06.2014

Jakarta- Bertempat di Media Center KPU Jakarta, 6 Juni 2014, SatuDunia meluncurkan ulang www.pemilubersih.org, media...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?