Kematian Ibu di Indonesia Tertinggi se-Asia Tenggara

SURABAYA--Angka kematian ibu (AKI) melahirkan di Indonesia menempati rangking tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan catatan Departemen Kesehatan, dari 307 per 100 ribu angka kelahiran hidup, setiap satu jam ada dua ibu meninggal karena hamil dan persalinan. Menurut Dr dr Budi Santoso, divisi Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekolog Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD dr Soetomo, Surabaya, mengatakan, 11 sampai 13 persen AKI diakibatkan karena adanya aborsi yanng tidak aman.

''Di seluruh dunia kurang lebih ada 50 juta ibu menjalani aborsi tak aman,'' kata Budi Santoso dalam Seminar Nasional 'Pengaturan Kesehatan Reproduksi: Legalisasi dan atau Liberalisasi Abortus' di Fakultas Hukum Unair, Surabaya, Selasa (24/11). Di Indonesia ada 1,5 juta ibu menjalani aborsi yang tidak aman. Departemen Kesehatan mencatat aborsi tak aman memberikan kontribusi 30-50 persen pada AKI di Indonesia. Inilah yang mendorong ketersediaan pelayanan abortus yang aman sehingga bisa mengurangi AKI.

Legalisasi abortus yang hingga saat ini masih menjadi kontroversi. Sebagian kalangan menganggap legalisasi abortus hanya membuka peluang bagi liberalisasi seksual. Sedangkan kalangan yang lain memandang bahwa abortus diperbolehkan asal ada indikasi media maupun non-medis, seperti kasus perkosaan yang berdampak pada psikologi-sosial.

Persatuan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI), imbuh Budi, berdasarkan Pedoman Etik Obstetri dan Ginekologi-2003 Bab X Pasal 32 mengambil sikap tidak terjebak dalam pertentangan antara aliran pro-life yang secara ekstrem menolak aborsi dan aliran pro-choice yang menghormati hak perempuan untuk bebas menentukan kehamilannya dengan cara aborsi.

Abortus, lanjut dia, bisa dilakukan dengan merujuk pada UU RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Abortus menjadi alternatif pilihan bagi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). KTD yang dimaksud adalah kehamilan yang jika dilanjutkan akan memiliki dampak psikososial yang berat seperti incest, perkosaan, retardasi mental, kegagalan KB, bayi cacat berat dan kehamilan dengan usia lanjut.

''Jadi, memang tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, tidak boleh aborsi tapi juga mempertimbangkan hal lain,'' ujarnya. Meski demikian, abortus harus dilakukan oleh tenaga medis lewat persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu seperti sebelum usia kehamilan kurang dari enam minggu.
''Tindakan abortus mestinya harus diiringi dengan konseling oleh konselor yang handal dan bertanggungjawab. Selai itu harus ada klinik remaja untuk memberikan konseling kepada mereka yang menjadi korban perkosaan,''pungkasnya.

Sumber : Reponline (Admin)

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?

AGENDA

16.09.2014

Knowledge sharing merupakan salah satu isu penting dalam knowledge management (Manajemen Pengetahuan) dan juga mendukung keberhasilan suatu organisasi atau jaringan.