Menggali Kearifan Lokal untuk Selamatkan Terumbu Karang

Penulis: 
Firdaus Cahyadi
Siang itu, 12 Desember 2007, terik matahari di Pantai Kuta tak menghalangi Arisandi Putra untuk mengajak penulis menelusuri keindahan pantai tersebut. “Dahulu di pantai ini terumbu karangnya masih bagus-bagus, tapi setelah ada bandara internasional, terumbu karangnya menjadi rusak,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Menurut Arisandi, begitu penulis sering memanggilnya, pembangunan bandara internasional itu telah menganggu kesimbangan dinamis pola sedimentasi pantai. “Akibatnya, air menjadi keruh dan itu tak bagus bagi pertumbuhan karang,” jelasnya.

Untunglah, lanjut Arisandi, ada upaya penyelamatan karang dengan cara transpalansi atau pencangkokan karang. “Uang ratusan jutaan rupiah dikucurkan untuk membiayai proyek itu,” katanya.

Arisandi adalah seorang staf proyek penyelamatan terumbu karang di Bali. Pria yang baru saja mengakhiri masa lanjangnya itu adalah teman penulis saat kuliah pada jurusan Oceanography di Universitas Hang Tuah Surabaya. 

Ratusan juta rupiah dikucurkan untuk menyelamatkan terumbu karang? Itulah pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran penulis setelah pertamuan singkat di Pantai Kuta. Sebegitu pentingkah terumbu karang, sehingga uang ratusan juta rupiah harus dikucurkan untuk menyelamatkannya?

Di tengah-tengah berbagai pertanyaan yang menggangu pikiran itu, tanpa sengaja penulis membaca sebuah artikel pada sebuah portal (www.posmetropadang.com) yang menggambarkan penderitaan nelayan di Padang, Sumatera Barat

Rusaknya terumbu karang di kawasan itu telah memaksa nelayan mencari ikan hingga pulau-pulau kecil yang terlihat dari bibir pantai. Sementara kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) akhir-akhir ini membuat mereka mengeluarkan biaya yang lebih besar dalam sekali melaut.

“Sekarang butuh biaya Rp 50 ribu untuk sekali jalan,” ungkap M Yusuf, salah seorang nelayan, seperti yang ditulis dalam web tersebut. Ia mengaku, biaya tersebut terkadang tidak seimbang dengan hasil tangkapan nelayan. Andai saja terumbu karang di kawasan itu tidak rusak, tentu mereka tidak perlu mencari ikan hingga jauh. 

Kerusakan terumbu karang di negeri bahari seperti Indonesia memang sudah meluas. Menurut Direktur Jenderal Pesisir Pantai dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Syamsul Muarif seperti yang dikutip Kantor Berita Antara menyebutkan bahwa saat ini 70 persen terumbu karang di laut Indonesia kondisinya rusak parah, dan hanya 30 persen yang masih relatif bagus.

Sementara nelayan adalah komunitas yang sangat bergantung terhadap kelestarian sumberdaya alam kelautan. Secara sederhana dapat dibayangkan terdapat 70 persen pula nelayan kita yang tengah mengalami kesulitan akibat kerusakan terumbu karang.

Dari sebuah pemikiran sederhana itulah, penulis mulai menyadari pentingnya terumbu karang diselamatkan. Penulis pun mulai paham mengapa uang ratusan juta rupiah dikucurkan untuk menyelamatkan terumbu karang. 

Meskipun begitu, masih ada sedikit pertanyaan yang menggangu di benak penulis. Bukankah bangsa ini termasuk bangsa bahari, apakah tidak ada kearifan lokal warisan nenek moyang yang mampu menyelamatkan terumbu karang kita?

Di Bali tepatnya di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng masyarakat nelayannya telah mempraktikan kembali kearifan lokal warisan nenek moyang, yaitu melakukan penangkapan ikan hias tanpa merusak terumbu karang. 

Kearifan lokal tersebut sempat ditinggalkan masyarakat desa tersebut. Nelayan desa itu menangkap ikan hias dengan cara yang tak ramah lingkungan dengan racun sianida.

Pengenalan sianida untuk mempermudah dan mempercepat penangkapan ikan hias dengan cepat menggantikan penangkapan dengan jaring. Bahkan kemudian berkembang gagasan di kalangan nelayan bahwa pemakaian jaring adalah kuno dan tradisional, sedangkan memakai sianida adalah modern. 

Sepanjang tahun 2001 dan 2002 masyarakat nelayan Desa Les bekerja keras untuk kembali mempelajari kearifan lokal yang selama ini mereka tinggalkan, yaitu penangkapan ikan hias dengan pemakaian jaring, sebagai ganti sianida.  

Di akhir tahun 2002, hampir seluruh nelayan ikan hias Desa Les telah berhenti menggunakan sianida dan menggunakan jaring. Dengan kembali menggunakan kearifan lokalnya mereka bangga seraya menunjukkan bahwa mereka mampu menangkap spesies ikan hias yang terkenal paling sulit pun, seperti ikan-ikan jenis angel (angel fish). 

Selain kemampuan untuk menangkap semua jenis ikan hias, pemakaian jaring ternyata juga tidak menurunkan jumlah total ikan hias yang bisa mereka dapatkan dalam satu kali operasi.

Kearifan lokal dalam menangkap ikan tanpa merusak terumbu karang tentu saja tidak hanya dimiliki oleh nelayan di Desa Les, Bali. Hampir masyarakat pesisir di nusantara memiliki kearifan lokal tersebut.

Atas dasar itulah COREMAP II sebuah program yang digagas oleh Departemen Kalautan dan Perikanan (DKP) mencoba menghidupkan kembali berbagai kearifan lokal yang mampu mempertahankan kelestarian terumbu karang di nusantara.

KABAR TERBARU

12.06.2014

Jakarta- Bertempat di Media Center KPU Jakarta, 6 Juni 2014, SatuDunia meluncurkan ulang www.pemilubersih.org, media...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?