Merawat Jenazah Odha Perlu Cara Khusus

JOMBANG - Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

''Dengan dibekali kemampuan tentang bagaimana cara menangani jenazah penderita ODHA ini, bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,'' kata Dr Kiftirul Aziz, Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Jombang, tadi pagi.

Menurut Aziz, ada lima upaya berstandar universal precaution (UP) yang direkomendasikan untuk melindungi individu. Ini berlaku untuk petugas kesehatan, pasien maupun petugas perawatan.

Diantaranya, mencuci tangan di air yang mengalir, penggunaan alat pelindung masker dan sarung tangan, pengelolaan benda tajam dan limbah sanitasi. Terkait ini dia lantas menyebut sejumlah perlengkapan perawatan yang harus disediakan. Meliputi kain kafan, plastik pembungkus jenazah, penutup kepala, pelindung mata, masker mulut, sarung tangan dan sepatu berbahan karet. ''Tidak boleh ada luka terbuka pada tangan atau kaki. Termasuk dilarang memangku jenazah seperti umumnya memandikan jenazah non ODHA,'' beber Aziz.

Dipengujung perawatan ini seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet ini masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain.
(eko)

KABAR TERBARU

27.12.2013

SatuDunia, Jakarta. Sebagian aktivis yang sedang melakukan advokasi tidak menganggap penting pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management/KM). Apa sebenarnya manfaat KM bagi LSM...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?

AGENDA

02.12.2013

Aplikasi open map dapat dimanfaatkan oleh organisasi masyarakat sipil untuk mendukung kerja-kerjanya, semisal membuat peta sebaran kasus yang ditangani.