Oral Seks tidak Mengurangi Risiko Tertular HIV

Penulis: 
ray

Satudunia, Amerika. Pada semua aktivitas seksual, seks oral juga membawa beberapa risiko penularan HIV ketika salah satu pasangan diketahui terinfeksi HIV. Ketika pasangan diketahui status HIV atau tidak diketahui, atau ketika salah satu pasangan tidak monogami atau menyuntikkan obat-obatan resiko penularan tetap ada. Meski risiko penularan HIV melalui seks oral jauh lebih rendah dibandingkan dengan seks anal atau vaginal, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa seks oral dapat menyebabkan transmisi HIV dan penyakit menular seksual (PMS).

Dengan tidak berhubungan seks bebas atau abstain dari oral, anal, dan sama sekali seks vaginal atau melakukan seks hanya dengan pasangan setia yang tidak terinfeksi adalah satu-satunya cara bahwa individu bisa sepenuhnya terlindung dari penularan HIV seksual. Namun, dengan menggunakan kondom atau penghalang lain, hubungan seksual dengan mulut dan alat kelamin, individu dapat mengurangi risiko tertular HIV atau PMS lain.

Oral seks adalah aktivitas seksual yang memberi atau menerima stimulasi oral (menghisap atau menjilat) ke penis, vagina, dan atau anus. Fellatio adalah istilah teknis yang digunakan untuk menggambarkan kontak oral dengan penis. Cunnilingus adalah istilah teknis yang menggambarkan kontak dengan vagina. Anilingus (kadang-kadang disebut "rimming") mengacu pada kontak oral-anal.

Studi di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa seks oral biasanya dilakukan oleh laki-laki yang aktif secara seksual, perempuan, homoseksual/sejenis, temasuk remaja. Oral seks dilakukan oleh beragam usia. Meski di AS remajanya sering melakukan seks oral, beberapa data di AS menunjukkan bahwa banyak remaja yang melakukan seks oral tidak menganggap itu sebagai "seks". Karena mereka menganggap seks oral sebagai pilihan untuk pemanasan.

Selain itu, banyak orang di AS menganggap seks oral aman atau tidak berisiko. Dalam survei nasional yang dilakukan remaja untuk The Kaiser Family Foundation AS, 26% dari yang aktif secara seksual  antara umur 15-17 tahun menjawab bahwa oral seks sama sekali tidak menularkan HIV, sementara 15% responden tidak tahu apakah seorang dapat menjadi terinfeksi dengan cara itu.

Oral Seks dan Risiko Penularan
Risiko penularan HIV dari pasangan yang terinfeksi melalui seks oral jauh lebih kecil daripada risiko penularan HIV dari aktivitas seks anal atau vaginal. Untuk mengukur  secara tepat risiko penularan HIV akibat seks oral diakui sangat sulit. Selain itu, dari individu yang melakukan variasi seksual, baik anal, vaginal atau oral,  sulit untuk menentukan apakah transmisi penularan terjadi akibat dari oral seks atau kegiatan seksual lainnya yang berisiko. 

Namun demikian, beberapa faktor cara penularan, sudah dapat meningkatkan resiko penularan HIV, termasuk seks oral jika salah satu pasangan mengalami luka, perdarahan gusi, kelamin luka, dan kehadiran PMS lainnya.
Perlu diketahui, HIV bisa ditularkan melalui fellatio, cunnilingus, dan anilingus.  Sementara PMS lainnya bisa menjadi media penularan HIV dari aktivitas oral seks.

PMS yang lain dapat ditularkan melalui seks oral dengan pasangan yang terinfeksi. Contoh dari PMS ini termasuk herpes, sifilis, gonore, genital warts (HPV), parasit usus (amebiasis), dan hepatitis A.

Oral Sex dan Pengurangan Resiko
Konsekuensi dari terinfeksi HIV adalah seumur hidup. Jika pengobatan tidak dimulai pada waktu yang tepat, HIV dapat mengancam jiwa. Namun, ada langkah yang dapat diambil untuk menurunkan risiko terkena HIV dari seks oral.

Secara umum, penggunaan alat pengaman, seperti kondom selama melakukan seks oral dapat mengurangi risiko penularan HIV dan PMS lainnya. Sebuah kondom lateks atau plastik dapat digunakan pada penis untuk mengurangi risiko transmisi oral-penis.  Jika pasangan seksnya adalah wanita, kondom dapat menghindari risiko penularan akibat luka karena terbentur gigi atau mulut dan melalui vagina.

Sebaliknya pada hubungan pria sesama jenis, penggunaan kondom pada aktivitas seks oral juga dapat menghindari penularan lewat luka/pendarahan di mulut atau benturan gigi.

Jadi penggunaan kondom sangat dianjurkan untuk menghindari penularan HIV, termasuk virus herpes selama melakukan oral vaginal atau oral-anal seks. Dalam hubungan pria sesama jenis (misalnya oral anus), pasangan yang terinfeksi berisiko menularkan HIV  ke pasangannya bila ia mempunyai luka di mulut atau pendarahan di gusi.(Sumber: disarikan dari http://www.cdc.gov)
 

KABAR TERBARU

12.06.2014

Jakarta- Bertempat di Media Center KPU Jakarta, 6 Juni 2014, SatuDunia meluncurkan ulang www.pemilubersih.org, media...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?

AGENDA

16.09.2014

Knowledge sharing merupakan salah satu isu penting dalam knowledge management (Manajemen Pengetahuan) dan juga mendukung keberhasilan suatu organisasi atau jaringan.