Pengguna Napza yang Positif HIV Butuh Dukungan

Rabu, 20 Januari 2010 08:21
Samsuridjal D, Zubairi D, Okki R Rabu, 20 Januari 2010 08:06

Sekitar dua bulan yang lalu saya dihubungi seorang bapak yang mempunyai seorang anak laki-laki pengguna NAZA. Sebenarnya dia telah mengetahui bahwa anaknya menggunakan NAZA sejak lima tahun yang lalu. Dia telah mencoba menyembuhkan ketergantungan anaknya ke dokter maupun  pengobatan tradisional. Hasilnya tidak memuaskan, anaknya berhenti menggunakan narkotika suntikan  beberapa kali tapi biasanya dalam beberapa bulan kambuh kembali. Ayah ini menghubungi saya karena timbul persolan baru yaitu anaknya dinyatakan HIV positif

Testing
Informasi AIDS di media masa telah meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap infeksi HIV. Sebagian besar pengguna NAZA atau keluarga berkonsultasi untuk testing HIV karena mendapat informasi melalui media masa bahwa HIV dapat ditularkan melalui penggunaan narkotika suntikan. Dari pengalaman memberikan dukungan kepada pengguna NAZA ternyata  pada beberapa kasus  keinginan untuk testing datang dari keluarga bukan dari pengguna. Dalam konseling terungkap sebagian pengguna kurang peduli dengan risiko terinfeksi HIV. Dia datang sekedar untuk memuaskan orang tua. Dengan demikian tidaklah mudah untuk memperoleh persetujuan tindak medis (informed consent) sebelum melakukan testing. Ada juga pengguna yang bersedia memberikan persetujuan tindak medis bahkan secara tertulis tapi dia berterus terang sebenarnya dia tak peduli apakah terinfeksi HIV atau tidak.

Sebaliknya dalam suatu pertemuan dengan orang tua pengguna NAZA yang anak-anaknya sedang mengalami rehabilitasi, saya mendapat kesan bahwa masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa pengguna narkotika suntikan beresiko tertular Hepatitis B, C dan HIV. Mereka kelihatannya sudah sangat terpukul dengan kenyataan anak mereka pengguna narkotik. Beban tersebut sudah cukup berat bagi mereka sehingga mereka sulit membayangkan dibalik persoalan yang berat yang sedang dihadapi masih terdapat persoalan-persoalan lain yang cukup berat.

Tidak semua orang tua mengetahui anaknya pengguna NAZA. Pengguna NAZA berusaha agar kebiasaan menggunakan NAZA tidak diketahui oleh orang tua mereka. Seorang ayah baru mengetahui anaknya ( seorang mahasisiwa) semester 7 menggunakan NAZA ketika anaknya telah lima tahun menggunakan NAZA.

Untuk keperluan survailens seorang pengguna NAZA dikategorikan HIV positif jika hasil tes positif dua kali dengan pemeriksaan penyaring yang berbeda-beda.1 Sejak setahun yang lalu  sudah amat jarang digunakan tes konfirmasi Western Blot karena harga pemeriksaan ini sudah mencapai lima ratus ribu rupiah. Tes penyaring ( misalnya dengan metode Elisa) sekarang ini tak dapat dikatakan murah. Di RS Cipto Mangunkusumo biaya tes ini empat puluh ribu rupiah, sedangkan di rumah sakit swasta biayanya dua kali lipat. Faktor biaya ini juga akan menjadi penghambat  testing HIV di kalangan pengguna NAZA di samping motivasi pengguna untuk melakukan testing yang pada umumnya rendah.

Terapi
Layanan kesehatan bagi pengguna NAZA yang tidak terinfeksi HIV masih amat minim. Dalam suatu survei sederhana di dua kelurahan di Jakarta Pusat didapatkan remaja putera usia 15 –25 tahun sekitar 60-70 % menggunakan NAZA dan sekitar 60 % menggunakannya dengan cara suntikan. Angka kematian di kalangan rukun tetangga ( sekitar 50-60 rumah ) sekitar 2- 5 orang anak.2 Angka ini cukup mengejutkan meski terdapat bias karena sebagian orang tua yang takut anaknya terpengaruh memindahkan anaknya ke tempat lain.  Sebagian besar kematian di luar rumah sakit tanpa layanan kesehatan yang memadai. Baik orang tua maupun teman-teman pengguna tidak tahu pertolongan apa yang harus diberikan kepada pengguna yang mengalami dosis berlebihan Sebagian besar penolong memberikan minum, padahal pengguna dalam keadaan tidak sadar. Mereka tidak memahami risiko aspirasi (tersedak). Sikap orang tua juga ambivalen. Mereka ingin anaknya ditolong dan ingin membawanya ke rumah sakit. Dari sisi lain mereka juga takut, bila diketahui anaknya pengguna narkotika mereka akan berurusan dengan polisi.

Kesiapan unit layanan darurat di rumah sakit di Jakarta juga belum merata. Sebagian petugas kesehatan sudah mampu memberikan pertolongan secara profesional . Ada sekitar 10 rumah sakit di Jakarta yang sudah rutin menghadapi masalah kelebihan dosis, tapi masih banyak rumah sakit yang mengirim penderita ke rumah sakit lain sehingga memperlambat pertolongan. Meski telah pernah dilakukan pelatihan penatalaksanaan keracunan obat opiat oleh RS Cipto Mangunkusumo,  tapi masih banyak petugas kesehatan yang belum mampu mendeteksi kasus keracunan opiat ini.  Obat antidotum untuk menetralkan pengaruh morfin seperti nalokson (narcan) masih mahal.3 Dalam waktu dekat ini Yayasan Memajukan Ilmu Penyakit Dalam berniat merencanakan untuk membuat panduan pertolongan  darurat kasus kelebihan dosis NAZA baik pada tingkat pelayanan primer maupun di rumah sakit rujukan. Pada penatalaksanaan tersebut juga harus jelas wewenang pihak di luar kesehatan sehingga hendaknya hak-hak pengguna di perhatikan dan masyarakat tidak takut membawa penderita ke rumah sakit.

Selain itu beberapa komplikasi akibat penggunaan narkotika suntikan juga memerlukan penatalaksanaan medis secara serius seperti udema paru dan infeksi yang serius seperti Subakut bakterial endokarditis. Infeksi ini mengancam jiwa dan pengobatannya cukup mahal dan lama.

Penggunaan narkotika suntikan beresiko menularkan berbagai penyakit melalui jarum suntik yang digunakan secara bersama seperti Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV. Angka kekerapan Hepatitis C di kalangan penguna narkotika suntikan amat tinggi yaitu sekitar 60-80 % ( Rino, komunikasi pribadi). Penularan infeksi ini akan menimbulkan masalah baru. Kekerapan infeksi HIV di kalangan pengguna di berbagai negara telah sering diungkapkan . Angka kekerapan ini dapat mencapai 40-60 %.4 Di Indonesia angka kekerapan infeksi HIV di kalangan pengguna NAZA belum banyak diteliti. Penelitian pendahuluan di Jakarta dari sampel darah tahun 1998 dan awal 1999 masih menunjukkan angka yang rendah (dibawah 5 %).

Dukungan
Keterlibatan masyarakat luas dalam memberi dukungan kepada pengguna NAZA patut dihargai. Meski demikian  pemahaman mengenai permasalahan  NAZA ini perlu disebarluaskan . Pemahaman yang kurang tepat dapat menyudutkan bahkan merugikan pengguna. Dukungan yang ditawarkan dapat menjadi hambatan dan  menimbulkan permasalahan baru.5,6 Keterlibatan masyarakat dalam upaya penyuluhan, dan rehabilitasi yang semakin meningkat perlu disertai  pula dengan upaya peningkatan mutu layanan.

Sudah sejak lima tahun yang lalu Yayasan Pelita Ilmu melaksanakan program dukungan untuk Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Sejak  program dimulai kegiatan diharapkan dapat memberi dukungan tanpa membedakan latar berlakang Odha termasuk kebiasaan menggunakan narkotik.7 Pada bulan-bulan belakangan ini Yayasan Pelita Ilmu  sudah semakin banyak berhubungan dengan  Odha yang juga pengguna NAZA .

Ternyata latar belakang pengguna narkotik dapat merupakan stigma. Keluarga Odha kuatir kebiasaan menggunakan narkotik akan menular pada anggota keluarganya yang mendapat dukungan di sanggar Pelita Ilmu. Di samping itu kebiasaan menggunakan narkotik bila diteruskan di sanggar akan menimbulkan permasalahan  bagi para Odha lain maupun masyarakat sekitar. Sementara upaya untuk menghentikan kebiasaan menggunakan narkotika tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang panjang.

Di beberapa pusat dukungan di luar negeri dukungan terhadap Odha pengguna narkotik di laksanakan di pusat dukungan untuk pengguna narkotik. Jadi di pusat dukungan ini terdapat pengguna yang HIV positif maupun tidak. Sebaliknya di Yayasan Pelita Ilmu terdapat Odha yang mempunyai latar belakang menggunakan narkotik dan tidak. Dengan semakin berkembangnya kasus-kasus HIV positif di kalangan pengguna narkotik maka relawan , buddies di sanggar Pelita Ilmu mulai harus memahami masalah narkotika dengan segala macam aspeknya. Pada prinsipnya sanggar Pelita Ilmu tidak ingin memisahkan dukungan terhadap Odha pengguna narkotika. Untuk itu teman-teman di Pelita Ilmu perlu banyak belajar dan menjalin kerjasama erat dengan teman-teman LSM lain yang telah mempunyai pengalaman lebih banyak dalam memberi dukungan pada pengguna narkotika.
 

KABAR TERBARU

30.01.2012

JAKARTA, (PRLM).- Konvergensi media baru sebatas menguntungkan pemilik korporat media, belum menguntungkan publik sebagai pemilik frekuensi.

PUBLIKASI

02.02.2012

SatuDunia, Jakarta. Bisnis ICT begitu menggiurkan di Indonesia. Di balik itu ternyata ada wajah bopengnya. Indepth report terkait hal itu dapat diunduh/download di bawah ini.