Prilaku Seksual Penasun Rawan Penyebaran AIDS

Penulis: 
ray

Satudunia, Jakarta. Pengguna Napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam  penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom.

Demikian paparan  penelitian Pusat Peneiitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya yang diseminarkan  dengan tajuk: ‘Perilaku Sehat dan Jaringan Seksual Pengguna Napza Suntik: Adakah persoalan Unmet Needs?’ di Jakarta, kemarin (22/3).

Dalam seminar tersebut dipaparkan dua hasil penelitian, yaitu (1) Perilaku mencari bantuan kesehatan oleh pengguna napza suntik di Kota Bekasi (Kerjasama dengan Burnet Institute di Indonesia); dan (2) Jaringan seksual dan penggunaan napza pada pengguna napza suntik di 6 propinsi (Kerjasama dengan FHI/ASA).

Penelitian juga dilakukan untuk mengetahui pola hubungan seksual, jejaring pasangan seksual dan perilaku menggunakan Napza, terkait dengan pengayaan dan penajaman program intervensi bagi kalangan penasun.

Kelompok yang diteliti adalah kelompok yang dijangkau. Yang menjadi subyek penelitian adalah mereka yang masih melakukan Napza suntik dalam 6 bulan terakhir dan melakukan seksual aktif.

Penelitian dilakukan di 10 kota di enam propinsi di Indonesia, yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 720 responden. Kebanyakan responden adalah berjenis kelamin laki-laki (92%) dengan usia berkisar antara 16 sampai 50 tahun. Sebagian besar responden telah mengenal atau dijangkau oleh program Harm Reduction antara tahun 2006-2008

Beberapa hasil temuan menjelaskan,  penasun pertama kali menggunakan Napza dan pertama kali berhubungan seksual pada satu fase usia yang sama, yaitu antara 16 sampai 20 tahun. Usia paling muda mencapai usia 10 -11 tahun.

“Prilaku seksual penasun  masuk ke wilayah penularan yang lebih luas. Tidak hanya pasangannya, tapi kelompok lain yang tidak berisiko,” ungkap Raymond Tambunan, Koordinator Peneliti Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya.  Bahkan kata Raymond,  jaringan seksual penasun cukup luas, tidak hanya antar provinsi tapi juga sudah antar negara.

“Kategori yang kami buat dari subyek peneltian adalah pasangan dalam 1 tahun terakhir, yang jumlahnya 6.390 pasangan,” tambah Raymond, yang juga staf pengajar Fakultas Psikologi Unika Atmajaya Jakarta.

Kebanyakan penasun pertama kali berhubungan seksual dengan pacamya. Selain itu, selama hidupnya penasun terlibat hubungan seksual dengan berbagai jenis pasangan. Baik pasangan seks tetap (istri/suami/pacar), pasangan seks kasual (singkat dan sewaktu-waktu, bisa teman atau kenalan) dan pasangan seks komersial. Pada periode yang bersamaan mereka dapat melakukan hubungan seks dengan semua jenis pasangan tersebut.

Sebagian besar penasun memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam setahun terakhir. Sebagian dari pasangan itu juga memiliki pasangan seksual lain, termasuk pada pasangan tetap penasun.

Hasil laporan juga menyebutkan, para penasun yakin bahwa Napza - terlepas dari jenisnya - memberikan efek positif dalam berhubungan seksual, seperti membuat bertahan lama, lebih berani dan percaya diri melakukan pendekatan, dan lebih merasa bergairah.

Yang menarik, sebagian besar para penasun meyakini kondom dapat mencegah diri dan pasangannya dari penularan penyakit IMS (infeksi menular seksual) dan HIV/AIDS. Namun pada kenyataanya, penggunaan kondom yang konsisten baru dilakukan antara 19% sampai 40%, tergantung tipe pasangannya.

Penggunaan kondom cenderung dilakukan oleh penasun jika pasangannya tidak tetap, tidak dikenal dan memperoleh informasi tentang seks. Sedangkan penasun cenderung tidak menggunakan kondom jika berhubungan seks dengan pasangan yang tetap, tinggal serumah, dikenal dalam jangka waktu lama

Sebagian penasun yang diteliti mengaku pernah tertular penyakit menular seksual, dan sebagian juga pernah melakukan tes HIV.

Laporan FHI ASA
Sementara itu, melengkapi penelitian di atas, Laporan Program Penanggulangan HIV/AIDS pada Pengguna Napza Suntik Tahun 2009 yang diterbitkan Family Health International – Program Aksi Stop AIDS (FHI ASA) menyebutkan, hanya sekitar 20% penasun menyatakan tidak memiliki pasangan seksual, selebihnya memiliki variasi pasangan seks yang beragam seperti memiliki pasangan tetap, pasangan tidak tetap, pasangan komersial atau kombinasi dari ketiga jenis pasangan seks tersebut.

Dari yang aktif secara seksual, tiga perempatnya memiliki pasangan tetap baik itu istri/suami atau pacar. Dilihat dari jenis kelaminnya, 85% penasun perempuan yang aktif secara seksual, memiliki pasangan tetap. Untuk penasun laki-laki, sekitar 74% memiliki pasangan tetap. Hampir seluruh (93%) penasun yang memiliki pasangan tetap, aktif secara seksual dengan pasangannya dalam satu tahun terakhir ini dengan rata-rata hubungan seks per minggu sebanyak 3 kali.

Sementara itu, penasun yang memiliki pasangan tidak tetap dalam satu tahun terakhir ini sebanyak 3-7% (penasun laki-laki 38%, dan penasun perempuan 26%). Pasangan tidak tetap yang dimaksud adalah seseorang yang diajak- berhubungan seks tanpa ada komitmen hubungan diantara mereka dantanpa melibatkan pertukaran uang atau barang.

Pasangan ini bisa sesama penasun, seseorang yang ditemui di jalan, di tempat umum atau di tempat hiburan. Dalam satu tahun, penasun yang memiliki pasangan tidak tetap rata-rata berhubungan seks dengan tiga orang berbeda.

Yang menarik, sekitar 32% penasun memiliki pasangan seks komersial. Sebanyak 83% diantaranya adalah pasangan seks yang menjual seks dan selebihnya adalah pasangan seks yang membeli seks dalam satu tahun terakhir ini.

Jenis kelamin pasangan seks yang menjual seks adalah 96% perempuan, 3% waria dan kurang dari 1% laki-laki. Penasun yang membeli seks dari pasangan seks perempuan rata-rata berhubungan seks dengan 4 orang dan penasun yang membeli seks dari waria, rata-rata berhubungan seks dengan 2 orang dalam satu tahun terakhir ini.

Penasun yang membeli seks semuanya adalah penasun laki-laki. Penasun yang menjual seks, sebagian besar adalah penasun laki-laki (86%) dan rata-rata jumlah pasangan yang membeli seks sebanyak 2 orang. Tidak hanya perempuan yang membeli seks dari penasun ini, tetapi juga waria. Sedangkan untuk pasangan yang membeli seks dari penasun perempuan semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Jika dilihat dari jumlah pasangan seks, sekitar 52% penasun yang aktif secara seksual dalam satu tahun terakhir memiliki pasangan lebih dari satu jenis pasangan seksual.

Meski secara spesifik survei ini tidak bisa menunjukkan adanya karakteristik concurrency (memiliki pasangan seks yang berbeda dalam jangka waktu yang sama) dalam jaringan seksual penasun, tetapi gambaran di atas bisa mengindikasikan adanya kemungkinan karakteristik ini telah terjadi dalam periode satu tahun. Ini bisa dilihat pada pasangan yang memiliki pasangan tetap dimana 40% diantaranya memiliki pasangan lain (pasangan tidak tetap dan komersial) dalam satu tahun terakhir. Demikian juga pola sexual mixing (memiliki pasangan yang memiliki latar belakang risiko yang berbeda) juga terjadi. Sebagian besar pasangan tetap dan tidak tetap dari penasun adalah bukan penasun.

Dilihat dari pasangan komersial yang dimilikinya, sebagian besar penasun laki-laki berhubungan seks dengan pekerja seks perempuan, dalam proporsi yang lebih kecil dengan waria dan dengan laki-laki.

Penggunaan Kondom
Sementara mengenai penggunaan kondom di kalangan penasun cukup bervariasi jika dilihat dari waktu dan jenis pasangan seksnya.  Secara umum, penggunaan kondom tampak relatif cukup tinggi pada saat hubungan seks terakhir, baik dengan pasangan tetap, tidak tetap maupun komersial (35%, 47% dan 51%, secara berurutan).

Dilihat dari jenis pasangan yang dimilikinya, penggunaan kondom pada hubungan seks terakhir dengan pasangan komersial menunjukkan, penasun yang hanya memiliki pasangan komersial, penggunaan kondomnya relatif lebih rendah (47%) dibandingkan dengan penasun yang memiliki jenis pasangan yang lain.

Demikian juga, pada saat hubungan seks terakhir dengan pasangan tidak tetap, penasun yang hanya memiliki pasangan tidak tetap penggunaan kondomnya relatif lebih rendah (41%) dibandingkan dengan penasun yang memiliki jenis pasangan seks yang lain. Sebaliknya dalam hubungan seks dengan pasangan tetap, penasun yang hanya memiliki pasangan seks tetap saja relatif lebih tinggi penggunaan kondomnya (38%) dibanding penasun yang memiliki pasangan tetap dan memiliki jenis pasangan seks yang lain.

Penggunaan kondom dalam satu bulan dan satu tahun terakhir dengan pasangan komersial sekitar 30%. Sementara dengan pasangan tidak tetap sebesar 22%.
 

KABAR TERBARU

30.01.2012

JAKARTA, (PRLM).- Konvergensi media baru sebatas menguntungkan pemilik korporat media, belum menguntungkan publik sebagai pemilik frekuensi.

PUBLIKASI

02.02.2012

SatuDunia, Jakarta. Bisnis ICT begitu menggiurkan di Indonesia. Di balik itu ternyata ada wajah bopengnya. Indepth report terkait hal itu dapat diunduh/download di bawah ini.