YPSHK Gelar Lokakarya Pentingnya Kampanye Pengelolaan SDA yang Terbaharui
YPSHK : Sulawesi Tenggara merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang memang patut dibanggakan. Mengapa tidak, potensi kawasan hutan yang tersisa mencapai 62% (Data Kehutanan Prov Sultra) itu menyimpan sejumlah kekayaan aneka ragam hayati dan nonhayati, bahkan mineral. Namun disayangkan, pengelolaan dan pemanfaatan SDA, baik yang dapat diperbaharui maupun tidak, banyak menuai masalah. Di sejumlah kabupaten (kecuali Wakatobi), pemerintah daerah mengambil kebijakan untuk mengelola tambang dan perkebunan. Karena, sektor ini mudah memberi pemasukan pada daerah dibanding sektor lain yang justru lebih baik: pariwisata, pertanian, atau kelautan.
Beberapa agenda yang dikampanyekan oleh NGO di Sultra (termasuk YPSHK) adalah (1) Revisi Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang disinyalir lebih berorientasi terhadap kepentingan investasi (tambang dan perkebunan); berdasarkan data dan analisis, sejumlah kawasan yang akan direvisi merupakan bagian dari rencana peta investasi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Tenggara (2) Krisis Energi yang tak terbaharukan (3) konflik lahan adat (4) Illegal logging, dan (5) destruktif fishing.
Agar hasil kampanye dapat maksimal, maka perlu diidentifikasi sejumlah campaigner andal yang mampu mendorong dan membangun aliansi untuk mengampanyekan dan mengadvokasi isu-isu strategis terkait pengelolaan SDA. Perlu juga ditingkatkan kemampuan individu-individu (campaigner) di NGOs dalam mempengaruhi publik (audience) melalui media informasi atau komunikasi.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, YPSHK Sultra melaksanakan Workshop “of The Strategy of Campaigns Advocacy For NGOs And Covernments Phase II pada 16-18 Februari 2010. Pesertanya dari NGOs, media, pihak akademika, dan beberapa instansi terkait seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertambangan Prov. Sultra, Dinas pariwisata Prov. Sultra, Dinas Kehutanan, BP DAS. Fasilitatornya adalah Marco Kusumawijaya dan Chalid Muhammad (Desi Fajariana)


