Biak Numfor Butuh Klinik ODHA

Tekan Penyebaran AIDS, Perlu Dibangun Klinik Untuk ODHA
KPDE Biak Numfor

Jika ada bantuan dana mencukupi dari pemerintah, maka di Kabupaten Biak Numfor perlu dibangun sebuah klinik khusus untuk menangani ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Pasalnya, jika ODHA ini dirawat dengan baik, mereka dapat hidup lebih lama, bisa mencapai 15 tahun terhitung sejak mereka diketahui mengidap penyakit mematikan itu. Namun kalau ODHA dikucilkan, paling-paling mereka dapat bertahan hidup 1 sampai 2 tahun, karena mereka frustasi, putus asa dan stres.

Hal ini dikatakan Ketua KPA Kabupaten Biak Numfor, Adrianus Kafiar, SE saat ditemui KPDE Biak Numfor, Minggu kemarin. Menurutnya, di dalam klinik itu tidak hanya ada tenaga dokter dan perawat, namun juga ditempatkan tenaga konseling yang akan memberikan semangat hidup ODHA, yang pada akhirnya mereka tidak memiliki pikiran menularkan ke orang lain.

Disamping itu, secara bertahap klinik itu bisa melakukan tes darah. Karena tingkat penyebaran penyakit berbahaya itu di Kabupaten Biak Numfor cukup tinggi, hingga Mei 2007 kasus HIV/AIDS di Biak Numfor mencapai 300 kasus. Sebagaimana fenomena gunung es, itu artinya pengidap HIV/AIDS di Biak yang tidak kelihatan mencapai ribuan,� ungkapnya.

Oleh karena itu, Ketua KPA Biak Numfor menegaskan, sarana seperti klinik untuk ODHA harus dibangun sebagai upaya menekan penyebaran penyakit mematikan tersebut. Untuk itu, pihaknya mengharapkan sekali kerjasama yang erat dari semua pihak, terutama dari Pemerintah Daerah untuk memberikan perhatian sungguh-sungguh termasuk bantuan dana. Karena kalau penyakit yang belum ditemukan obatnya ini tidak ditangani secara baik, sepuluh tahun kedepan banyak ditemui orang meninggal karena penyakit ini.

Meski dana minim, Ketua KPA Biak Numfor mengaku tetap berupaya melakukan sosialisasi HIV/AIDS melalui beberapa kegiatan. Termasuk perhatian Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Biak Numfor terhadap pengidap HIV/AIDS sudah bagus, sekalipun mereka juga keterbatasan dana. Selain pasiennya, yang perlu diperhatikan adalah alat habis pakai terutama untuk tenaga perawat karena merekalah yang memberi perawatan bagi ODHA.

“Saya juga berterimakasih kepada Pemerintah Provinsi Papua, karena kemarin melakukan sosialisasi HIV/AIDS di Kabupaten Biak Numfor,” ujar Adrianus Kafiar.

Dari data KPDE Biak Numfor, memang benar beberapa waktu lalu Pemerintah Provinsi Papua melalui KPA, di Hotel Intsia Biak, mengadakan pertemuan untuk koordinasi penguatan system pelayanan kesehatan yang berbasis perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang dihadiri pihak Pemerintah, KPA, tokoh adat, agama dan masyarakat.

Waktu itu, Ketua Pokja Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi ODHA, KPA Provinsi Papua, Elsa Siahaan mengatakan, bahwa layanan kesehatan bagi ODHA telah dilakukannya sejak 2004 lalu. Dan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI, hingga saat ini ada 7 rumah sakit rujukan untuk ODHA di Tanah Papua, diantaranya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, RSUD Kabupaten Merauke, Rumah Sakit Sele Be Solo Sorong, Rumah Sakit Mitra Masyarakat dan BKTIA (Balai Kesehatan Terpadu Ibu dan Anak) di Timika, RSUD Manokwari dan RSUD Abepura. **

http://biak.go.id/default.php?dir=news&file=detail&id=507

Penulis: biak.go.id

KABAR TERBARU

12.06.2014

Jakarta- Bertempat di Media Center KPU Jakarta, 6 Juni 2014, SatuDunia meluncurkan ulang www.pemilubersih.org, media...

PUBLIKASI

14.11.2013

Bagaimana menjembatani pengetahuan kepada masyarakat yang tampaknya tidak tersentuh ICT (teknologi informasi dan komunikasi)?